PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Mendengar kata TBC dikalangan masyarakat tidak asing lagi.
Ada yang sesuai dengan terjadinya, ada yang memiliki pengertian pengkaburan, mengunakan istilah.
Baca Juga: Mahasiswi MTK San Agustin, Lidia Julai Wijaya Raih Penghargaan Fashion Bergengsi
Penyebutan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Sebagai contoh TBC adalah penyakit keturunan, mengapa disebut demikian karena penderita tinggal dalam satu rumah mulai dari kakek, anak dan cucunya menderita penyakit yang sama.
Padahal penyakit ini sangat menular terutama dengan orang sekitar.
Dari sudut pandang lainnya TBC juga disebut sebagai penyakit kutukan dikarenakan dalam satu rumah beberapa anggota keluarga ada yang menderita TBC secara kronologis terpapar ayah atau ibunya selanjutnya anak sampai dengan anak cucu.
Sehingga dari hal tersebut orang yang menderita TBC merupakan aib bagi keluarga tersebut.
Padahal penyakit TBC disebabkan oleh kuman yang ditularkan melalui batuk atau percikan dahak yang disebut dengan istilah droplet infection.
Sebagian lagi masyarakat juga menyebut penyakit TBC itu penyakit paru-paru basah (ada plek di paru-paru).
Baca Juga: Mahasiswi MTK San Agustin, Lidia Julai Wijaya Raih Penghargaan Fashion Bergengsi
Disebutkan demikian karena pihak petugas kesehatan mengatakan hasil pemeriksaan foto torak dan agar penderita dan keluarga merasa tidak takut dan merasa tertuduh terkena penyakit keturunan atau kutukan.
Sehingga TBC memiliki arti yang bukan sebenarnya. Padahal penyakit tersebut, penyakit yang sangat menular dan perlu dicegah agar tidak tertular.
Ada juga masyarakat mengenalnya dengan sebutan Koch Pulmonal (KP) atau Tuberkulosis. Penyebutan ini di masyarakat luas tanpa pemahaman yang jelas apa sebenarnya penyakit TBC tersebut.