healty

Bahaya Tersembunyi! Botol Air Plastik Sekali Pakai Berulang Kali Berisiko Meracuni Tubuh

Sabtu, 22 Juni 2024 | 08:15 WIB
Botol Plastik Ilustrasi (Freepik)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Sebuah riset yang dilakukan oleh Columbia University dan diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science menyimpulkan bahwa penggunaan berulang botol air kemasan plastik dapat menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan karena paparan zat berbahaya.

Para peneliti menjelaskan bahwa botol kemasan plastik umumnya terbuat dari Polyethylene Terephthalate (PET/PETE), yang sering digunakan dalam botol air minum sekali pakai.

Mereka menegaskan bahwa plastik ini dirancang untuk digunakan sekali pakai saja, dan penggunaan berulang dapat menyebabkan keluarnya lebih banyak bahan kimia dan racun ke dalam air yang diminum dari botol tersebut.

Baca Juga: Inara Rusli Ungkap Perasaan Usai Virgoun Ditangkap Narkoba: 'Saya Sudah Melakukan Bagian Saya'

"Ketika botol sekali pakai digunakan berulang kali, jumlah zat kimia berbahaya seperti di-ethylhexyl phthalate (DEHP) dapat merembes ke dalam air minum, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius," ungkap salah seorang peneliti seperti yang dilansir oleh One Green Bottle pada Rabu, 19 Juni 2024.

Para ahli juga mencatat bahwa banyak botol plastik kemasan di pasaran mengandung BPA (Bisphenol A), yang telah terbukti dapat meningkatkan risiko masalah hormon, kesuburan, dan penyakit lainnya jika terpapar dalam jangka panjang.

Selain itu, studi ini menyoroti bahwa air minum dalam botol plastik juga bisa mengandung partikel mikroplastik dan nanoplastik, yang merupakan bentuk polusi plastik yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Baca Juga: Keuskupan Labuan Bajo Terbentuk: Paus Fransiskus Tunjuk Mgr Maksimus Regus sebagai Uskup Pertama

Partikel-partikel plastik ini dapat menyerang sel dan jaringan di organ tubuh, serta mengandung berbagai bahan kimia seperti bisphenol, ftalat, retardan api, zat-zat per- dan polifluorinasi (PFAS), serta logam berat.

Sherry Mason, seorang ahli keberlanjutan di Penn State Behrend yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan, "Semua bahan kimia ini digunakan dalam pembuatan plastik, dan jika plastik tersebut masuk ke dalam tubuh kita, maka bahan kimia tersebut juga akan masuk. Suhu tubuh yang lebih tinggi dari lingkungan sekitar dapat mempercepat pelepasan bahan kimia dari plastik ke tubuh kita."

Baca Juga: 317 Umat Paroki Singkawang Terima Sakramen Krisma di Gereja St Fransiskus Asisi

"Bahan kimia ini dapat menyebar ke hati, ginjal, otak, dan bahkan dapat melewati plasenta untuk mencapai janin yang belum lahir," tambahnya. ***

Tags

Terkini

Waspadai Gangguan Kardiovaskuler

Rabu, 16 Juli 2025 | 20:55 WIB