daily-vibes

Misa Inkulturasi di Kuta, Saat Iman Katolik Berjalan Bersama Budaya Bali

Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:55 WIB
Pater Markus Solo Kewuta, SVD, berfoto bersama para konselebran dan penari seusai Misa Inkulturasi Bali di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Kuta, Bali, Minggu (09/08/2026).

Sebagian anggota Pasemetonan Krama Bali Katolik tersebut berasal dari komunitas Katolik di Paroki Palasari, Paroki Tuka, dan wilayah sekitarnya yang memiliki sejarah panjang perkembangan umat Bali Katolik.

Keberadaan mereka menunjukkan bahwa menjadi Katolik tidak serta-merta membuat seseorang harus meninggalkan akar kebudayaannya.

Sebaliknya, melalui inkulturasi, kebudayaan setempat mendapat ruang untuk berdialog dengan iman.

“Semoga dengan adanya Misa inkulturasi seperti ini, pewartaan Injil semakin mengena di hati umat dan masyarakat sekitarnya,” ujar Herry.

Injil yang Berakar di Tanah Bali

Dalam kehidupan gereja, Misa inkulturasi bukan sekadar mengganti bahasa atau menambahkan ornamen tradisional dalam perayaan liturgi. Lebih dari itu, inkulturasi menjadi upaya menghadirkan pesan Injil dalam konteks kehidupan masyarakat.

Di Kuta, upaya tersebut terlihat melalui berbagai unsur budaya Bali yang hadir dalam perayaan. Penjor yang selama ini menjadi bagian dari lanskap budaya Bali berdiri di lingkungan gereja. Bahasa Bali yang akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari terdengar dalam nyanyian liturgi. Gebogan buah turut menjadi bagian dari suasana perayaan.

Semua unsur tersebut berpadu dalam satu ruang, yakni gereja.

Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta, RD Evensius Dewantoro Bolidaton, bersama Romo Rekan RD Ardy Marlianto dan Diakon William Fortunatus Dani Ardhiatama, turut mendampingi kehidupan umat di tengah keberagaman tersebut.

Misa berakhir, tetapi pesan yang dibawa dari perayaan itu lebih panjang dari satu pagi.

Di tengah perubahan zaman dan kehidupan Bali yang terus bergerak, umat Katolik Bali menunjukkan bahwa iman dan kebudayaan tidak harus dipertentangkan.

Keduanya dapat berjalan bersama. Bagi mereka, menjadi Katolik bukan berarti berhenti menjadi orang Bali. Justru melalui budaya yang diwariskan para leluhur, iman dapat menemukan bahasa yang lebih dekat dengan hati umat. ***

 
 
 
 

Halaman:

Tags

Terkini