daily-vibes

Sidak Dapur MBG di Bogor, Kepala BGN Temukan Kendala Distribusi hingga Tegaskan SPPG Tak Sesuai Standar Bisa Ditutup

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:05 WIB
Menyoroti aksi sidak dapur MBG yang dilakukan Kepala BGN, Sudaryono ke SPPG wilayah Bogor, Jawa Barat. (Instagram.com/@sudaru_sudaryono)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAWA BARAT -- Publik di media sosial tengah menyoroti inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, ke dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bogor, Jawa Barat.

Momen sidak tersebut dibagikan langsung oleh Sudaryono melalui akun Instagram pribadinya, @sudaru_sudaryono, pada Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: Nanik S Deyang Ungkap Tekanan Berat saat Pimpin BGN: Akui Ada Kekacauan hingga Trauma Kelola Anggaran Negara

"Jam 3 pagi di Bogor. Saya sidak ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pasir Kuda 03," ujar Sudaryono.

Menurutnya, sidak dilakukan untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan dalam program MBG memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan sebelum didistribusikan kepada para penerima manfaat.

"Melihat proses masak makanan buat anak-anak kita. Pegawai kaget melihat kedatangan kami," katanya.

Sidak tersebut turut menjadi perhatian publik karena sebelumnya kegiatan serupa juga rutin dilakukan oleh mantan Kepala BGN, Nanik Deyang.

Lantas, apa saja temuan Sudaryono dalam sidak tersebut?

Kepala SPPG Keluhkan Distribusi ke Posyandu

Dalam kunjungannya, Sudaryono mengaku menerima sejumlah masukan dari Kepala SPPG Pasir Kuda terkait proses distribusi makanan MBG.

Menurutnya, SPPG tersebut setiap hari menyalurkan sekitar 2.800 paket makanan.

"Tadi yang dapur pertama, dia mengirimkan porsinya 2.800-an porsi," kata Sudaryono.

Baca Juga: Presiden Prabowo Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Nanik S Deyang Ungkap Alasan Mundur karena Sakit Jantung dan Stres Berat

Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 paket diperuntukkan bagi kelompok penerima manfaat 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang didistribusikan ke sejumlah posyandu. Sementara sisanya disalurkan ke sekolah.

"2.000 di antaranya itu 3B, balita, ibu menyusui, dan ibu hamil, yang didrop di posyandu-posyandu, dan sisanya ke sekolah," ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini