Kebakaran TPA Jatiwaringin turut menjadi sorotan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Organisasi tersebut menilai peristiwa ini merupakan dampak dari buruknya sistem pengelolaan sampah.
WALHI mencatat sedikitnya 154 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mulai muncul akibat paparan asap kebakaran.
Pengkampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, Wahyu Eka Setyawan, menyebut kebakaran seperti ini akan terus berulang selama praktik open dumping masih diterapkan.
"Selama metana terus diproduksi dalam sistem open dumping dan penumpukan sampah organik yang bercampur dengan jenis lainnya, kebakaran seperti ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan. Ini bukan kejadian tak terduga, melainkan akibat dari cara pengelolaan yang salah," ujar Wahyu, dikutip dari laman resmi WALHI, Jumat, 3 Juli 2026.
"Ini konsekuensi langsung dari kegagalan sistem pengelolaan sampah yang terus dibiarkan tanpa pembenahan mendasar," sambungnya.
Berdasarkan data WALHI, TPA Jatiwaringin menerima sekitar 1.366 hingga 2.700 ton sampah per hari atau setara 498.590 hingga 985.500 ton per tahun.
Namun, kapasitas tersebut baru mampu menampung sekitar 59 persen dari total timbulan sampah di Kabupaten Tangerang, yang menunjukkan tingginya tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah di wilayah tersebut. ***