Selain para pemimpin negara ASEAN, hadir pula sejumlah tokoh dunia seperti Sekjen PBB Antonio Guterres, Presiden European Council Antonio Costa, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.
Kehadiran para pemimpin dunia itu menegaskan posisi strategis ASEAN dalam geopolitik global, terutama terkait kerja sama ekonomi dan isu kemanusiaan.
Rangkaian KTT ke-47 ASEAN kali ini memuat 25 pertemuan penting, dengan fokus pada integrasi ekonomi kawasan, pengembangan ekonomi digital, serta rencana pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Isu global seperti konflik di Jalur Gaza dan posisi ASEAN terhadap perdamaian di Timur Tengah juga menjadi sorotan.
Namun, di tengah keseriusan pembahasan isu-isu besar itu, insiden salah sebut nama presiden Indonesia sempat mencoreng citra diplomatik Malaysia sebagai tuan rumah. Media internasional pun menyoroti kelalaian yang dianggap sepele namun berdampak besar itu.
Pengamat hubungan internasional dari Kuala Lumpur University, Rahim Shah, menilai kejadian ini sebagai 'tamparan kecil dalam etika diplomasi.'
“Dalam protokol kenegaraan, nama kepala negara adalah simbol kehormatan. Sekecil apa pun kesalahan penyebutan, efeknya bisa signifikan secara diplomatik," sebutnya.
Baca Juga: Piala AFF Terpinggirkan? FIFA ASEAN Cup Buka Babak Baru Rivalitas Regional
Kendati begitu, langkah cepat Malaysia dalam menyampaikan permintaan maaf dinilai sebagai tindakan tepat.
“Malaysia menunjukkan kedewasaan diplomatiknya dengan segera mengakui dan memperbaiki kesalahan,” kata Rahim.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa dalam forum internasional, setiap detail memiliki arti penting. Kesalahan sekecil apa pun bisa memengaruhi citra negara di mata dunia. Namun pada akhirnya, kehangatan antara Prabowo dan Anwar di atas panggung memperlihatkan bahwa hubungan kedua negara tetap berjalan baik meski sempat terselip kekeliruan di awal acara.***