seleb

Viral Menangis Saat Tertibkan Lahan Puncak, Dedi Mulyadi Sindir Perusak Alam

Senin, 5 Mei 2025 | 07:50 WIB
Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi. (YouTube @Lembur Pakuan - KDM Channel)

PONTIANAKGLOBE.COM, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menyoroti kerusakan lingkungan di kawasan Puncak, Bogor, dan menyebut tindakan tersebut tidak bisa ditoleransi.

Sebelumnya, Dedi sempat menjadi sorotan publik setelah terekam menangis saat menertibkan lahan di Puncak.

Baca Juga: Usai Dipuji Venna Melinda, Fuji Kini Dapat Restu dari Nenek Verrel untuk Jalin Hubungan Serius

Dalam momen tersebut, ia menekankan bahwa kawasan pegunungan adalah tempat yang sakral dan dihormati, terutama bagi masyarakat Sunda dan Jawa.

“Saya mungkin mengerti sebagai orang Sunda, dan orang Jawa pun sama, yang paham ajaran leluhur,” ujar Dedi di Bogor, Maret 2025 lalu.

“Karena bagi kami, gunung itu sakral, gunung itu dihormati,” tambahnya.

Pernyataan Dedi tersebut viral di media sosial, memicu diskusi luas tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.

Baca Juga: Jelang Indonesia vs China, Maarten Paes Blak-blakan Soal Taktik Negeri Tirai Bambu Bongkar Pertahanan Garuda

Dalam kunjungan kerjanya ke Kuningan, Jawa Barat, Dedi kembali menyinggung soal kerusakan alam oleh oknum tak bertanggung jawab.

“Itu tidak bisa dimaafkan, karena gunung, laut, air, angin, itu adalah ‘ibu’ kita semua,” ujarnya, dikutip dari kanal YouTube Lembur Pakuan Channel, Minggu, 4 Mei 2025.

Tak hanya menyasar pelaku langsung, Dedi juga menyinggung kelompok masyarakat ekonomi atas, termasuk pejabat, yang kerap menikmati keindahan alam namun justru ikut andil dalam kerusakannya.

Baca Juga: KTP2JB dan IIJ Kolaborasi Dorong Keberlanjutan Media dan Penguatan Demokrasi di Hari Kebebasan Pers Sedunia 2025

“Gunung menciptakan mata air yang menghidupi mereka. Jadi, kalau ada yang merusak alam, sesungguhnya mereka sedang menyakiti diri sendiri,” jelasnya.

Menurut Dedi, tingkah laku tersebut menunjukkan bahwa sebesar apa pun kekayaan seseorang, tidak dapat menggantikan keterikatan mendalam manusia dengan alam.

“Sekarang banyak orang kaya pergi ke gunung dan laut. Kenapa? Karena sebenarnya mereka sedang rindu pada ibunya. Siapa ibunya? Gunung dan lautan,” tegasnya.

Halaman:

Tags

Terkini