daily-vibes

Pesan Sibarani Tentang OMK Harus Jadi Generasi Beriman dan Peduli Sosial di Tengah Derasnya Notifikasi Digital

Kamis, 21 Mei 2026 | 00:30 WIB
Anggota Komisi XIII DPR RI Franciscus Sibarani

PONTIANAKGLOBE.COM | Empat paroki yang terlibat yakni OMK Paroki St. Gemma Galgani Katedral Ketapang, OMK Paroki St. Agustinus Payak Kumang, OMK Paroki Emanuel Sukadana, dan OMK Paroki St. Stefanus Kendawangan.

Sebanyak 250 Orang Muda Katolik (OMK) dari empat paroki di wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang mengikuti kegiatan Temu OMK yang berlangsung di kawasan Pulau Datok, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, pada 15–17 Mei 2027.

Kegiatan selama tiga hari dua malam tersebut menjadi ruang penguatan persaudaraan, iman, dan karakter generasi muda Gereja di tengah tantangan zaman digital.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti berbagai agenda seperti dinamika kelompok, pendalaman iman, refleksi, diskusi, serta aktivitas kebersamaan lainnya guna mempererat persaudaraan antar-OMK lintas paroki di wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang.

Mengusung tema “Solidaritas Tanpa Sekat, Kasih Tanpa Tapi di Tengah Notifikasi”, kegiatan tersebut menjadi refleksi atas kehidupan orang muda yang hidup di tengah arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan derasnya informasi digital.

Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Barat I, Franciscus Maria Agustinus Sibarani, turut memberikan perhatian dan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini yang menghadapi tantangan menjaga nilai persaudaraan di tengah kehidupan yang semakin cepat dan individual.

“Orang Muda Katolik harus mampu menjaga solidaritas kepada sesama tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun perbedaan lainnya. Kasih tidak boleh memiliki sekat dan tidak boleh hadir dengan syarat. Justru di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, nilai persaudaraan harus semakin kuat,” katanya.

Sibarani menilai perkembangan teknologi dan derasnya notifikasi digital tidak boleh membuat generasi muda kehilangan kepedulian sosial maupun kedekatan dengan sesama. Sebaliknya, OMK diharapkan tetap relevan dan adaptif terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan semangat pelayanan.

“Era digital menghadirkan banyak kemudahan, tetapi juga tantangan besar bagi orang muda. Jangan sampai dekat di media sosial, namun jauh dalam kepedulian nyata. Solidaritas dan kasih kepada sesama harus tetap menjadi identitas Orang Muda Katolik,” lanjutnya.

Ia menegaskan OMK tidak cukup hanya aktif di lingkungan Gereja, tetapi juga perlu hadir sebagai pribadi yang peduli terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat.

“Orang muda hari ini hidup dalam ruang yang penuh pilihan, penuh informasi, dan serba cepat. Karena itu OMK tidak cukup hanya aktif di lingkungan Gereja, tetapi juga harus hadir sebagai pribadi yang peduli terhadap persoalan sosial, memiliki empati, serta mampu menjadi pembawa damai di tengah masyarakat,” ujarnya.

Menurut Sibarani, solidaritas yang dibangun melalui kegiatan Temu OMK tidak boleh berhenti pada kebersamaan selama acara berlangsung, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.

“Solidaritas tanpa sekat berarti berani hadir untuk sesama tanpa melihat latar belakang. Ketika ada yang mengalami kesulitan, orang muda harus menjadi yang pertama hadir membantu. Kasih tanpa tapi berarti mengasihi tanpa syarat, tanpa memilih-milih, dan tanpa menunggu balasan,” tegasnya.

Ia juga menilai OMK memiliki peran strategis sebagai generasi penerus Gereja sekaligus calon pemimpin masa depan yang akan menentukan arah kehidupan sosial masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini